Tampilkan postingan dengan label Besaran dan Satuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Besaran dan Satuan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juni 2016

Kesalahan-kesalahan dalam Pengukuran

Kesalahan merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk dihindari, termasuk ketika kita sedang melakukan kegiatan pengukuran. Kesalahan-kesalahan seperti salah mengkalibrasi alat, salah menentukan skala dan lain sebagainya menyebabkan hasil dari pengukuran menjadi kurang maksimal.

Kesalahan-kesalahan dalam Pengukuran
Sumber Kesalahan dalam Pengukuran

Ada banyak penyebab kenapa kita bisa salah dalam melakukan kegiatan pengukuran. Beberapa sumber-sumber kesalahannya pun bermacam-macam. Berikut 4 sumber kesalahan pengukuran yang sering terjadi:
  1. Kesalahan alat ukur. Ketidaksempurnaan alat ukur merupakan salah satu hal yang menyebabkan kegiatan pengukuran menjadi kurang maksimal. Kesalahan kalibrasi, faktor usia alat dan lain sebagainya menjadi faktor utama kenapa kesalahan alat ukur bisa terjadi.

  2. Kesalahan Manusia. Kesalahan-kesalahan yang disebabkan oleh manusia adalah hal yang sangat sering terjadi. Penyebabnya bisa karena kurang konsentrasi, salah penggunaan atau ketidakmampuan menggunakan alat. Kesalahan paralaks adalah yang paling umum. Kesalahan ini disebabkan karena seseorang yang sedang melakukan percobaan salah posisi saat melihat objek.

  3. Kesalahan alami. Kesalahan ini terjadi karena faktor alam yang kondisinya tidak menentu. Bisa karena perbuhahan suhu, cuaca dan faktor alam lainnya. Untuk beberpa kasus percobaan, ini akan sangat berefek terhadap hasil pengukuran.

  4. Kesalahan hitung. Kesalahan hitung terjadi karena kesalahan dalam proses analisis. Di dalamnya bisa berupa salah dalam penulisan angka penting, pembulatan atau perhitungan-perhitungan dasar.

Jenis-jenis kesalahan dalam pengukuran

Berdasarkan jenisnya, kesalahan terbagi menjadi 2 macam. Kesalahan sistematis dan kesalahan acak. Apa itu kesalahan sistematis? apa itu kesalahan acak?

Ini dia pemaparannya!
  1. Kesalahan Sistematis. Kesalahan semacam ini terjadi karena kesalahan-kesalahan yang ada kaitannya dengan kekeliruan dalam pengaturan alat, kalibrasi alat dan juga tempat dilakukannya proses pengukuran. Hal-hal semacam ini bisa dihidari yaitu dengan lebih teliti dalam proses pengukuran, semisal pengaturan kalibrasi alat serta desain tempat yang tepat untuk proses pengukuran.
  2. Kesalahan Acak. Kesalahan acak adalah kesalahan yang tidak bisa dihindari. Mau seberapa hebat pun alat yang dipergunakan, mau seteliti apapun si penggunanya. Jenis kesalahan ini akan tetap ada dan tidak bisa hilang. Salah satu contohnya adalah menentukan ketidakpastian pengaruh lingkungan terhadap hasil pengukuran. 
https://mail.google.com/mail/u/0/?ui=2&ik=3377d21bd7&view=att&th=1552dbe99778245a&attid=0.1&disp=safe&realattid=f_ip68azg40&zw

Kalian sedang membaca postingan tentang kesalahan-kesalahan dalam pengukuran. Konsep ini sangat erat kaitannya dengan materi pengukuran dalam fisika. Bagi kalian yang ingin mempelajari lebih lengkap tentang materi ini silahkan kunjungi link pengukuran dalam fisika.

Pengertian Presisi dan Akurasi pada Kegiatan Pengukuran

Di dalam kegiatan pengukuran kita akan dikenalkan dengan yang namanya presisi dan akurasi. Apakah kalian tahu apa arti serta perbedaan kedua istilah itu? Bagi kalian yang belum faham silahkan simak penjabarannya berikut!

Pengertian Presisi dan Akurasi pada Kegiatan Pengukuran 

Presisi dalam sebuah kegiatan pengukuran bisa dikaitkan dengan:
  • Seberapa tinggi ketidaksesuaian hasil alat ukur saat pengukuran dilakukan berulang-ulang; Semakin sedikit ketidaksesuaiannya maka akan semakin tinggi presisinya.
  • Jumlah angka desimal yang ditunjukan alat ukur, semakin banyak angka desimalnya maka semakin presisi.
  • Perlakuan dalam proses pengukuran, yang mana didalamnya mencakup ketelitian si pengukur, kualitas alat dan kestabilan kondisi tempat pengukuran. Semakin baik proses yang dilakukannya maka akan semakin presisi.
Berdasarkan pemaparan diatas, presisi sangat berkaitan erat dengan yang namanya nilai akhir yang didasarkan pada hasil baca alat ukur dan juga proses serta metode yang dilakukan. Apakah alat ukurnya sudah benar? caranya sudah benar? kondisi lingkungan memadai dan lain sebagainya. Itulah yang mempengaruhi tingkat presisi.

Nah akurasi sendiri apa?

Akurasi hanya memiliki satu arti yaitu seberapa dekat hasil pengukuran dengan nilai yang sebenarnya. Nilai sebenarnya disini adalah nilai yang sesuai dengan teori pada umumnya. 

Misalkan saja kalian melakukan percobaan untuk menghitung gravitasi bumi, dari hasil percobaan didapat nilai 10,18 m/s2. Nah apakah nilai tersebut mendekati nilai gravitasi bumi berdasarkan teori sesungguhnya, yaitu 9,8 m/s2? Apabila iya, maka tingkat akurasinya bisa dikatakan tinggi.

https://mail.google.com/mail/u/0/?ui=2&ik=3377d21bd7&view=att&th=1552d7d6f9e1b668&attid=0.1&disp=safe&realattid=f_ip65sfli0&zw


Kalian sedang membaca postingan tentang presisi dan akurasi. konsep ini sangat erat kaitannya dengan materi pengukuran. Silahkan pelajari lebih lanjut materi ini di link pengukuran pada fisika.

Aturan Angka Penting dalam Fisika

Angka penting merupakan angka yang diyakini dalam kegiatan pengukuran. Dalam mempergunakan angka penting ini, ada beberapa aturan yang perlu kalian ketahui agar hasil dari kegiatan pengukuran bisa menghasilkan nilai yang benar. Setidaknya ada tiga aspek yang akan kita kaji disini, yaitu aturan penulisan, pembulatan dan perhitungan.


Beberapa aturan penulisan angka penting:
  1. Semua angka yang nilainya bukan nol adalah angka penting
  2. Contoh:
    • 5,88 m memiliki 3 angka penting
    • 34,77 kg memiliki 4 angka penting

  3. Angka nol yang letaknya antara angka bukan nol adalah angka penting
    Contoh:
    • 3,014 cm memiliki 4 angka penting
    • 2009 mg memiliki 4 angka penting

  4. Angka nol yang terletak di sebelah kiri dan kanan desimal adalah bukan angka penting
    Contoh:
    • 0,198 mm memiliki 3 angka penting
    • 0,0156 memiliki 3 angka penting

  5. Angka nol di sebelah kanan angka bukan nol adalah angka penting. Terkecuali ada penjelasan khusus.
    Contoh:
    • 16,00 memiliki 4 angka penting
    • 0,3400 memiliki 4 angka penting
    • 0,3400 memiliki 3 angka penting
Selain aturan yang dijelaskan di atas, ada aturan-aturan lain yang perlu kalian pelajari, yaitu berkenaan dengan aturan pembulatan dan perhitungan. 

Aturan Pembulatan:
  1. Angka yang nilainya lebih besar dari 5 dibulatkan ke atas dengan ditambah satu.
    Contoh: 9,86 m ditulis 9,9 m
  2. Angka yang nilainya lebih kecil dari 5 tidak mengalami perubahan.
    Contoh: 9,94 mm ditulis 9,9 mm
  3. Angka yang nilainya sama dengan 5 dibulatkan ke atas jika angka di depannya ganjil dan tidak mengalami perubahan jika angka didepannya genap.
    Contoh: 7,75 dibulatkan menjadi 7,8 ; 8,85 dibulatkan menjadi 8,8
Aturan Perhitungan:
  1. Penjumlahan dan pengurangan angka penting
    Hasil dari penjumlahan atau pengurangan pada angka penting hanya boleh memiliki satu angka taksiran.
    Contoh:
    8,31 m + 1,32 m = 9,63 m ditulis 9,6 m
    13,987 mm + 8, 304 mm = 22,291 ditulis 22,3

    Ket: yang digaris bawahi adalah angka taksiran.
  2. Perkalian dan pembagian angka penting
    Hasil dari perkalian atau pembagian pada angka penting ditulis sebanyak angka penting paling sedikit.
    Contoh:
    19,83 x 10,3 = 204.249 ditulis 204 → Jumlah angka penting paling sedikitnya 3
    1,5 x 1,11 = 1,665 ditulis 1,7 → Jumlah angka penting paling sedikitnya adalah 2
https://mail.google.com/mail/u/0/?ui=2&ik=3377d21bd7&view=att&th=1552d5224e946d70&attid=0.1&disp=safe&realattid=f_ip643pag0&zw

Kamu sedang membaca konsep tentang aturan angka penting. Materi ini masih erat kaitannya dengan pembahasan pengukuran. Pelajari konsep pengukuran dalam fisika.

Besaran dan Satuan: Pengukuran dalam Fisika

Di dalam Fisika pengukuran didefinisikan sebagai suatu kegiatan mengukur objek benda dengan mempergunakan alat ukur. Alat ukur yang dipergunakannya sendiri beragam, tergantung dari jenis objek benda yang hendak diukur.

Besaran dan Satuan: Pengukuran dalam Fisika 

Jenis-jenis Alat Ukur

Untuk alat ukur panjang, jenis-jenis alat yang dipergunakan bisa berupa penggaris, jangka sorong, mikrometer skrup dan lain-lain. Bagi kalian yang ingin mengenal lebih jauh tentang jangka sorong dan mikrometer skrup, bisa kunjungi link-linknya dibawah.
Selain alat ukur panjang, ada juga alat yang bisa dipergunakan untuk mengukur massa benda atau dikenal dengan timbangan atau neraca. Cara penggunaannya sendiri dilakukan dengan meletakan beban pada salah satu lengan neraca dan meletakan kalibrasi standar pada lengan yang lainnya.

Belum selesai sampai di situ, ternyata alat ukur masih ada lagi jenisnya. Apa itu? Alat ukur untuk menghitung kuat arus dan tegangan

Alat untuk menghitung kuat arus apa? Alat untuk menghitung tegangan apa?

Alat ukur yang dipergunakan untuk menghitung besar kuat arus adalah ampermeter sedangkan untuk mengetahui besar tegangan bisa mempergunakan voltmeter. 

Jenis Pengukuran

Berdasarkan jenisnya pengukuran terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu pengukuran secara langsung dan pengukuran secara tidak langsung.

1. Pengukuran Langsung

Pengukuran dikatakan langung apabila hasil pengukuran mempergunakan alat ukur menunjukan hasil akhir dan tidak memerlukan tambahan teknis lainnya, seperti merata-ratakan atau penggunaan rumus. Contoh dari pengukuran langsung adalah menimbang massa benda dengan suatu timbangan.

2. Pengukuran Tidak Langsung

Untuk pengukuran tidak langung, proses pengukuran dengan mempergunakan alatnya memerlukan perhitungan-perhitungan tambahan. Mengukur luas persegi panjang contohnya. Dalam hal ini, pertama kali yang dilakukan adalah mengkur dua sisi (panjang dan lebar), selanjutnya adalah mengalikan panjang dan lebar tersebut untuk menghitung luasnya.

Angka Penting

Angka penting merupakan angka yang diperoleh dari hasil pengukuran. Dalam penulisannya, hasil dari pengukuran akan menghasilkan yang namanya angka pasti dan angka taksiran. Nah dalam hal ini, kedua jenis angka tersebut masuk ke dalam kategori angka penting. Sehingga tidak bisa diabaikan keberadaannya.

Di dalam angka penting, kita akan dikenalkan dengan beberapa aturan. Untuk aturannya sendiri silahkan kalian kunjungi link aturan angka penting.

Presisi dan Akurasi
Dua istilah ini akan kalian temui dalam kegiatan pengukuran. Apa itu presisi? Apa itu akurasi? Dan apa manfaatnya kita mempelajari hal ini, silahkan kalian kunjungi konsep presisi dan akurasi.

Kesalahan Pengukuran

Di kegiatan pengukuran, kita pasti akan menemukan yang namanya kesalahan. Sumber kesalahannya pun beragam, bisa itu dari sebuah kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari atau memang sama sekali tidak bisa dihindari. Kesalahan-kesalahan semacam ini disebut juga sebagai ketidakpastian dalam pengukuran. Pelajari lebih lengkap>>


Subab Materi Besaran dan Satuan

Silahkan pelajari subab dari materi besaran dan turunan di bawah secara berurutan:

Cara Membaca Mikrometer Sekrup beserta Contoh Penerapannya

Mikrometer sekrup merupakan salah satu alat ukur yang dipergunakan untuk menghitung ketebalan, panjang atau diameter bola yang ukurannya sangat kecil. Dengan alat ini, kita bisa menghitung tebal kawal, tebal kertas ataupun objek-objek kecil lainnya.

Perhatikan gambar berikut,

  

Dari gambar tersebut, kita bisa melihat bahwa mikrometer sekrup mempunyai bagian-bagian utama yang nantinya akan dipergunakan untuk proses pengukuran, beberapa diantaranya adalah rahang tetap, rahang geser, skala nonius dan skala utama.

Skala noniusnya sendiri terletak pada bagian pemutar dan terdiri atas 50 skala. Setiap skala diputaran satu kali, maka rahang geser akan berpindah maju mundur sejauh 0,5 mm. Dengan begitu bisa disimpulkan bahwa satu skala nonius itu adalah 0,5/50 atau bernilai 0,01mm. Nah nilai ini disebut juga sebagai ketelitian mikrometer sekrup.

Bagaimana cara membaca mikrometer sekrup?

Untuk membaca mikromter sekrup pada dasarnya sangat mudah, asalkan tahu teknik dan langkah-langkahnya kita akan bisa langung mempraktekannya. Nah untuk prosesnya bisa kalian lihat pada poin-poinnya dibawah.

Disini saya ambil contoh gambar berikut,


Untuk langkah-langkahnya,
  1. Perhatikan bagian skala utama. Berdasarkan gambar tersebut dengan jelas kita melihat bahwa nilainya adalah 12 mm.
  2. Masih diskala utama, coba kalian lihat. Apakah bagian kanan-bawah dari skala yang sudah kita tentukan tersebut ada skala lain. Jika ada, segera tambahkan nilai 0,5 mm. Jika tidak, jangan tambahkan apa-apa. Dari gambar diatas terlihat sesudah angka 12 ada skala lain. Sehingga kita jumlahkan nilai 12 mm dengan 0,5 mm. Dan dihasilkan 12,5 mm.
  3. Nah terakhir lihat bagian skala nonius, berada diposisi berapa? Dalam hal ini nilainya adalah 0,16. Silahkan kalian jumlahkan nilai yang sudah didapatkan sebelunya dengan nilai yang ini. Sehingga didapatkan 12,5 + 0,16 = 12,66 mm. 4. Selesai. 
Masih bingung? 

Coba lihat ilustrasi gambar di bawah, 

 

Nah mungkin itu saja penjelasan berkaitan dengan cara membaca mikrometer sekrupnya, semoga postingan ini bisa bermanfaat buat kalian!

Bagi kamu yang ingin mempelajari lebih lengkap tentang konsep pengukuran silahkan kunjungi link pengukuran dalam fisika. Saya akan pandu kalian untuk memahami lebih jauh tentang materi ini.

Image source: http://www.technologystudent.com

https://mail.google.com/mail/u/0/?ui=2&ik=3377d21bd7&view=att&th=15529ed186476931&attid=0.1&disp=safe&realattid=f_ip566ya20&zw

Senin, 06 Juni 2016

Apa itu Jangka Sorong dan Bagaimana Cara Membacanya?

Jangka sorong adalah sebuah alat ukur yang digunakan untuk menghitung ketebalan suatu objek atau menghitung diameter dalam sebuah tabung. Selain itu jangka sorong juga bisa dipergunakan untuk mengukur kedalaman atau tinggi benda yang berbentuk tabung. 

Jangka sorong memiliki bagian-bagian penting yang dipergunakan dalam pengukuran, ada yang disebut dengan rahang tetap dan ada juga yang disebut rahang sorong. Pada rahang tetap terdapat yang namanya skala utama dan pada rahang sorong terdapat yang namanya skala nonius atau skala vernier. Untuk ilustrasi serta bagian lengkapnya bisa dilihat pada gambar berikut:

Apa itu Jangka Sorong dan Bagaimana Cara Menggunakannya?

Bagaimana cara memaca jangka sorong?

Cara menghitung jangka sorong cukuplah mudah. Hal yang pertama kali kalian lakukan adalah melihat informasi ketelitian jangka sorong terlebih dahulu.

Pada beberapa jangka sorong ada yang mempergunakan jangka sorong dengan ketelitian 0,1 mm dan 0,02 mm. Nah jika sudah tahu nilai ketelitiannya, silahkan ikuti langkah-langkah dibawah untuk menggunakannya:
  1. Jepit bagian objek benda yang hendak diukur ketebalannya dengan menggeser bagian rahangnya. 
  2. Kunci rahang agar tidak bergeser.
  3. Perhatikan angka nol pada skala nonius. Sekarang coba lihat sebelah kiri angka nol tersebut pada skala utama. Berada di kisaran berapa? Tulis atau ingat nilai yang kalian dapat dalam mm. (Nilai pertama).
  4. Sekarang coba kalian perhatikan skala yang mana antara skala nonius dan dan skala utama sejajar.
  5. Hitung banyak ruas dari nol sampai dengan skala yang sejajar tersebut.
  6. Silahkan kalikan banyak ruas dengan ketelitian jangka sorong (Nilai kedua).
  7. Nilai pertama dan kedua jumlahkan. 
Masih bingung?

Saya berikan contohnya dibawah!

Contoh Pengkuruan dengan Jangka Sorong 

Dibawah adalah ilustrasi tentang pengukuran sebuah objek mempergunakan jangka sorong. Simak dan amati dengan baik!

Apa itu Jangka Sorong dan Bagaimana Cara Menggunakannya?

Nah begitulah cara melakukan kegiatan pengukuran dengan menggunakan jangka sorongnya. Semoga bermanfaat!

Baca materi serta konsep pengukuran secara lebih lengkap di link berikut pengukuran dalam fisika.

Image Source: http://www.technologystudent.com

https://mail.google.com/mail/u/0/?ui=2&ik=3377d21bd7&view=att&th=1552929216e03994&attid=0.1&disp=safe&realattid=f_ip4yjmhj0&zw

Minggu, 05 Juni 2016

Besaran dan Satuan: Pembahasan Besaran Vektor dan Besaran Skalar

Hi semuanya! Pada halaman ini kalian akan kami ajak untuk mempelajari sekaligus mengkaji tentang besaran vektor dan besaran skalar.

Apa itu besaran vektor? dan apa itu besaran skalar?

Berikut penjelasannya, 

Pengertian Besaran Vektor dan Besaran Skalar
Besaran vektor adalah besaran yang mempunyai nilai sekaligus arah, sedangkan besaran skalar hanya memiliki nilai saja.

Maksudnya bagaimana?

Besaran vektor dikatakan memiliki arah sekaligus nilai karena jenis besaran ini dalam pemaparannya nanti akan diperlihatkan arah geraknya dengan nilai tertentu. Contohnya adalah kecepatan. Sebuah mobil dengan kecepatan 10 m/s tengah bergerak ke arah timur. Lihat ada nilai dan disebutkan juga arahnya! 


Jika tidak disebutkan arahnya pun kecepatan akan selalu memiliki nilai dan arah, contohnya saat kita melihat mobil dengan kecepatan sekian. . . sekian, apakah kita bisa melihat arahnya kemana? Tetap bisa bukan.

Nah inilah kenapa kecepatan disebut dengan besaran vektor. Contoh lain dari besaran vektor adalah perpindahan, percepatan, gaya, berat, momentum, impuls, momen gaya dan lain-lain.

Nah jika besaran skalar contohnya seperti apa? Hmm. . . Saya ambil salah satu contoh besaran skalarnya adalah volume. Lho kok bisa?

Saya tanya kembali, apakah volume mampu menghasilkan arah seperti kecepatan yang saya sebutkan tadi? Tidak bukan. Oleh sebab itulah kenapa volume masuk ke ranah besaran skalar.

Contoh lain dari besaran skalar adalah semua besaran pokok, jarak, energi, kelajuan, usaha, potensial listrik dan masih banyak lagi.

Menentukan Resultan Vektor (R)

Maksud dari resultan vektor apa si? Resultan vektor disini maksudnya adalah memadukan atau menjumlahkan nilai-nilai sebuah vektor.

Dalam mencari resultan suatu vektor terdapat beberapa cara yang bisa dipergunakan. Tergantung kita mau mempergunakan yang mana. Ada yang disebut dengan metode Poligon, metode jajarg genjang dan analisis vektor.

1. Menjumlahkan Vektor dengan Metode Poligon

Pada dasarnya dalam mempergunakan metode poligon ini kita disuruh untuk menyambung serta menyusun beberapa vektor sampai terkondisikan titik pangkal terhubung ke titik ujung.

Bingung? Ini contohnya.




Nah perhatikan gambar diatas, antar satu vektor dengan vektor yang lainnya saling terhubung. Dimana setiap ujung vektor terhubung ke pangkal vektor yang lainnya. Jika sudah dihasilkan seperti keadaan diatas, nilai resultan bisa diketahui dengan cara menjumlahkannya.

R = a + b + c

2. Menjumlahkan vektor dengan metode jajargenjang

Bagi kalian yang ingin menghitung berapa besar resultan vektor dengan metode jajargenjang, bisa ikuti langkah-langkahnya berikut:

a. Gambarkan 2 buah vektor dengan satu titik tangkap yang sama
b. Buat bayangan untuk setiap vektor
c. Buat garis baru dari titik pertemuan vektor dengan titik tangkap bayangan

Untuk ilustrasinya bisa dilihat pada gambar dibawah:

 

Berdasarkan gambar diatas, kita melihat sebuah jajargenjang dengan garis merah membentang ditengahnya. Garis tengah inilah yang disebut dengan resultan vektor. Nilai dari resultan vektor bisa didapat dengan mempergunakan rumus:



dimana α adalah sudut yang dibentuk oleh kedua vektor

3. Analisis Vektor

Ketika didapati sebuah vektor dengan nilai ternetu, kita bisa menguraikannya ke dalam komponen-komponen sumbu X dan komponen sumbu Y.



Nilai-nilai untuk setiap komponen tersebut bisa dicari dengan:
Fx = F cos α
Fy = F sin α

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/u/0/?ui=2&ik=3377d21bd7&view=att&th=155240dae15c7acd&attid=0.1&disp=safe&realattid=f_ip3jicgd0&zw&saddbat=ANGjdJ--B7QzEPTPVuGSd4ngRLezRTG2Psf_GrQ8cOQ6viOJphbBSW9r7F2aNY6vALiYjTFPSonhz3IttHvivsmkguAlaKXMTJkTDcW3LcuRTlzYprLSe6gmpeuTW_zXmS1jRKuNTV9a6rroHu_-1lEdDIrP8DMmEJHl5p6slUGxtCMdhMMU4dxNbk_YDkSAWgQbutw45G5XgIXjWPCm_04r8RTUzLhMX2zzJ6lcHkDR2F9S7co2xzH0KtdGhSJltEXR-NSwPEx_P-wqPOFPAoaw-OpyOkqNcQoGxx4yFqBfkGrCfWgyDw5You2i62u16BFx6oyWkz3COTPITRFa6fy1xjPviCcorsXTzqBKHwVczcXqm1cGs6yVXW5PhtcA4sNPG2qzkYtwyUm922N_kqE-usPqr9Rr6bOJBDy3yyoTuFpug1YPNL32tr1cu7UABvI0Xgqy7BSgjcSBIJPoS3uFaEgpFxgWDKYuoPfU6HUoUW7WdFI6bHXkxnXx3pileAY-Iia0u9vUUo06ldTPlA6V7-fC675gJmibGzeeXWFUi_CookEHmoLroZl3uACUH3ex8NFKMpPDlNRFvKTjPX_eC0zG8f5E8D8RFW70U0ZlQPZV_nIoncWK0TBbeA7hHKY-l47gT98QMKawzzi6

Subab Materi Besaran dan Satuan

Silahkan pelajari subab dari materi besaran dan turunan di bawah secara berurutan:

Besaran dan Satuan: Awalan Satuan dan Konversi

Sebelum kita masuk ke konsep konversi satuan dalam SI, hal yang mesti dipelajari pertama kali adalah tentang "Nama Awalan Satuan".

Awalan Satuan
Nama awalan satuan ini digunakan untuk mempermudah proses penulisan dan juga sebagai pembanding nilai satuan dalam jumlah besaran yang sama.

Misalkan kita mempunyai nilai 1 kilometer (1 km) dan kita ingin mengkonversikan nilai tersebut ke satuan dasarnya, yaitu meter (m). Maka hasil yang didapatkan adalah 1000 m atau dalam notasi eksponennya adalah 103 m.

Berdasarkan contoh diatas, kilo di sini merupakan salah satu nama awalan satuan dan nama awalan ini memiliki nilai 103. Nah untuk nama-nama awalan lain beserta nilainya bisa dilihat pada tabel berikut.
Nama
Faktor Kelipatan
Simbol
atto
10-18
a
femto 10-15 f
piko 10-12 p
nano 10-9 n
mikro 10-6 µ
mili 10-3 m
centi 10-2 c
deci 10-1 d
hekto 102 h
kilo 103 k
mega 106 M
giga 109 G
tera 1012 T
peta 1015 P
eksa 1018 E

Konversi Satuan
Sebenarnya ada banyak sekali nilai suatu satuan yang bisa dikonversikan, namun disini akan dijelaskan beberapa nilai satuan yang sekiranya perlu untuk difahami lebih lanjut. Adapun tabel konversi satuan bisa dilihat pada tabel-tabel berikut.

Tabel perbandingan satuan panjang


m cm ft in mil
1 m 1

102 3,281

39,3

6,214x10-4

Tabel perbandingan satuan luas


m2 cm2 ft2 in2 mil
1 m2 1

104 10,76

1,550

1,97x104

Tabel perbandingan satuan volume


m3 cm3 Liter ft3 in3
1 m3 1

106 10-3 3,53x105 6,1x104

Tabel perbandingan satuan massa


gram slug ons pon ton
1 kg
103 6,85x10-2 35,27

2,206 10-3



Subab Materi Besaran dan Satuan

Silahkan pelajari subab dari materi besaran dan turunan di bawah secara berurutan:

Besaran dan Satuan: Besaran Turunan dan Besaran Pokok

Pada kesempatan kali ini topik yang akan dibahas adalah tentang Besaran pokok dan Besaran Turunan. Besaran-besaran ini adalah sesuatu yang penting untuk dibahas karena akan selalu berhubungan dengan materi-materi Fisika lainnya.

Pembahasan tentang Besaran Pokok dan Besaran Turunan

Namun, sebelum kita masuk ke topik inti, yaitu tentang besaran pokok dan besaran turunan. Alangkah lebih baiknya kita harus tahu dulu hal yang melatarbelakangi kenapa besaran-besaran ini bisa muncul ke permukaan dan menjadi sesuatu yang sangat penting terhadap perkembangan pengetahuan? Yuk di simak pemaparannya.

Latar Belakang?

Fisika menuangkan konsep yang sangat luas dan tak terhitung jumlahnya. Para saintis dari setiap wilayah yang berbeda menyumbangkan berbagai konsep dan pengetahuan-pengetahuan baru. Perbedaan wilayah ini ternyata menjadi sebuah permasalahan. Sistem yang berlaku antara satu wilayah dengan wilayah lainnya tidak sama. Para saintis akhirnya kebingungan ketika harus mensinkronkan konsep dari suatu sistem wilayah lain dengan sistem yang terdapat pada wilayahnya sendiri. Hal inilah yang memaksa mereka untuk mencari solusinya.

Untuk mengatasi hal tersebut akhirnya para saintis sepakat untuk membuat sistem yang sifatnya universal dan bisa dipakai untuk semua wilayah, atau dikenal dengan sistem Internasional. Agar nantinya para saintis dari suatu wilayah mempergunakan sistem ini ketika hendak menjelaskan hasil temuannya. Nah salah satu bagian dari isi sistem yang diakui dunia ini adalah "besaran", yang mana didalamnya mencakup besaran pokok dan besaran turunan.

Pengertian Besaran Pokok

Besaran pokok didefinisikan sebagai suatu besaran yang satuannya sudah ditetapkan lebih dulu, besaran ini nantinya dipergunakan untuk menentukan besaran-besaran lainnya.

Berdasarkan hasil kesepakatan Internasional besaran pokok terdiri atas 7 besaran fisis. Ketujuh besaran ini didaulat sebagai besaran bagi satuan Internasional dan dikenal sebagai "Le Systeme International d'Unites". 

Ketujuh besaran beserta satuannya tersebut bisa dilihat pada tabel besaran pokok di bawah.
No
Besaran
Satuan
1
Panjang
Meter (m)
2
Waktu
Kilogram (kg)
3
Massa
Sekon (s)
4
Temperatur
Ampere (A)
5
Intensitas Cahaya
Kelvin (K)
6
Arus Listrik
Candela (Cd)
7
Jumlah Zat
Mol (mol)

Pengertian Besaran Turunan

Besaran turunan didefinisikan sebagai suatu besaran yang satuannya hasil penurunan dari besaran pokok. Besaran ini pada dasarnya merupakan hasil perkalian atau perbandingan dari beberapa besaran, baik itu besaran pokok ataupun besaran turunan.

Besaran jenis ini ada banyak sekali jumlahnya, beberapa contoh besaran turunan dan satuannya bisa dilihat pada tabel besaran turunan di bawah.
No
Besaran
Satuan
1
Kecepatan
m/s
2
Percepatan
m/s2
3
Volume
m3
4
Luas
m2
5
Gaya
Kg.m/s2 (N)
6
Tekanan
N./m2 (Pa)
7
dll . . .
dll . . .


Subab Materi Besaran dan Satuan

Silahkan pelajari subab dari materi besaran dan turunan di bawah secara berurutan:

Besaran dan Satuan: Pembahasan Dimensi

Jika kalian sudah faham dengan subab tentang materi besaran pokok dan besaran turunan, maka selanjutnya kita akan belajar tentang dimensi.

Apa itu dimensi?

Dimensi besaran dalam fisika didefinisikan sebagai cara besaran tersebut dinyatakan ke dalam bentuk besaran-besaran pokok. Dimensi untuk setiap besaran berbeda-beda antar satu dengan yang lainnya dan biasanya setiap besaran memiliki lambang-lambangnya tersendiri.

Adapun tabel dari dimensi besaran pokok bisa kalian lihat di bawah.
No
Besaran
Dimensi
1
Panjang
L
2
Massa
M
3
Waktu
T
4
Arus Listrik
I
5
Temperatur
θ
6
Intensitas Cahaya
J
7
Jumlah Zat
N


Dimensi Besaran Turunan

Nah yang di atas itu untuk dimensi-dimensi pada besaran pokok, sedangkan untuk dimensi pada besaran turunan akan sedikit berbeda. Terkadang kalian akan dituntut untuk mencari sendiri dimensi untuk setiap besaran turunan.

 

Terus bagaimana cara mencarinya? Yang pertama kali kalian lakukan adalah mengetahui dan menghafal semua dimensi pada besaran pokok karena dengan dimensi-dimensi pada besaran pokoklah kita bisa mencari dimensi pada besaran turunan.

Contohnya misalkan kita akan mencari DIMENSI KECEPATAN. Ikuti langkah-langkah berikut untuk mencarinya:

1. Tentukan satuan besaran bersangkutan.

Dalam hal ini, kecepatan memiliki satuan => m/s

2. Tentukan besaran untuk setiap satuan.

.:: meter (m) adalah satuan dari panjang
.:: sekon (s) adalah satuan dari waktu

Sehingga didapatkan m/s => panjang/waktu

3. Ganti besaran-besaran pokok tersebut dengan lambang dimensinya.
panjang/waktu => L/T atau LT-1

Begitulah cara menentukan dimensi pada besaran turunan, mudah bukan? Nah untuk contoh-contoh lain dari dimensi besaran turunan bisa kamu lihat pada tabel dimensi besaran turunan berikut.
No
Besaran
Dimensi
1
Luas
L2
2
Volume
L3
3
Percepatan
LT-2
4
Daya
ML2T-3
5
Masa Jenis
ML-3
6
Tekanan
M-1LT--2
7
dll . . .
dll . . .

Sudah fahamkan dengan materi dimensi besaran? Sekarang silahkan kalian coba cari sendiri dimensi energi potensial, dimensi gaya dan dimensi tekanan dengan cara yang sudah dipaparkan diatas!

Subab Materi Besaran dan Satuan

Silahkan pelajari subab dari materi besaran dan turunan di bawah secara berurutan: