Tampilkan postingan dengan label dinamika gerak lurus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dinamika gerak lurus. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juli 2016

Penjabaran tentang Gaya Pegas dan Elastisitas

Apa yang kalian lihat ketika ada sebuah karet mendapatkan tarikan? Karet akan memanjang dan  berubah dari bentuk aslinya. Namun setelah gaya dihilangkan karet akan kembali normal dan memendek. Keadaan pada saat terjadinya perubahan bentuk akibat adanya gaya luar (tarikan/dorongan) dikenal dengan istilah deformasi. Sedangkan kemampuan benda untuk kembali ke keadaan semula dikenal dengan istilah elastisitas.

.:: Elastisitas

Nah berbicara elastisitas. Disana kita akan mempelajari konsep-konseo tentang tegangan, regangan dan modulus young. Ketiga hal ini merupakan bagian penting dari elastisitas. Untuk penjabarannya silahkan simak ulasan berikut.

1. Tegangan 

Tegangan didefinisikan sebagai suatu gaya yang bekerja pada suatu benda per satuan luas permukaan benda itu. Gaya yang ditimbulkannya sendiri bisa diakibatkan oleh beberapa sebab, misalkan karena tarikan, dorongan atau juga pelintiran.

Secara matematis, besar tegangan yang dialami oleh suatu benda bisa dituliskan:

 σ = F/A

dimana,
σ  = Tegangan (N/m )
F  = Gaya (N)
A  = luas permukaan (m2)

2. Regangan (ϵ)

Selain tegangan, didalam elastisitas kita juga dihadapkan dengan istilah regangan. Apa itu regangan? Regangan adalah perbandingan antara perubahan panjang yang dialami benda dengan panjang awalnya. 

Secara matematis, persamaan tegangan adalah sebagai berikut:

ϵ = Δl/l0

Keterangan:
ϵ = Regangan
Δl = perubahan panjang (m)
l0 = panjang awal (m)

Regangan terjadi sebagai konsekuensi dari adanya gaya yang bekerja pada benda. Akibatnya benda menjadi semakin panjang atau bahkan sebaliknya. Pertambahan panjang bisa disebabkan karena adanya tarikan, sedangkan pemendekan bisa terjadi karena adanya tekanan.

3. Modulus Young atau Modulus Elastisitas

Modulus young merupakan perbandingan antara tegangan dan regangan. Secara matematis, persamaan modulus young bisa kita tuliskan:

Y = σ/ϵ

Dimana,
Y = modulus elastisitas (N/m2)
Berikut adalah tabel modulus young dari beberapa benda:
 
Bahan
Modulus Young
(x 1010N/m2)
Alumunium
7
Kuningan
9.1
Tembaga
11
Baja
20
Tungsten
35
Gelas
6.5 - 7.8
Kuarsa
5.6
.:: Hukum Hooke

Apabila kalian sudah faham dengan konsep-konsep elastisitas, seperti tegangan, regangan dan modulus elastisitas. Selanjutnya kita akan belajar berkaitan tentang hukum hooke.

Perhatikan bunyi hukum hooke berikut

"Pertambahan panjang pegas sebanding dengan gaya tarik yang dikenakan pada pegas sebelum melampau batas elastisitas pegas"

Berdasarkan hukum hooke ini, didapatkan bahwa ketika ada sebuah tarikan (gaya) yang bekerja pada sebuah benda dan kemudian gayanya tersebut tidak melebihi batas elastisitasnya, maka pertambahan panjang akan berbanding lurus dengan gaya yang bekerjanya.

Untuk penjelasan berkenaan dengan batas elastisitas, secara lebih mendetail bisa disimak pada grafik berikut:

Pada saat benda mendapatkan tarikan dan kemudian gaya yang dihasilkan melebihi batas elastisitasnya, maka benda tidak akan kembali ke keadaan semula. Benda akan berdeformasi ke bentuk baru selamanya. Dan jika tarikannya sampai ke titik patah, maka pegas akan rusak dan terputus.

Secara maematis, persamaan hooke bisa dituliskan:

F = k . Δx

dimana,
F = gaya (N)
k = konstanta
Δx = perubahan panjang (m)

.:: Susunan Pegas

Ada dua jenis susunan dalam pegas, yaitu susunan pegas seri dan susunan pegas pararel.

1. Susunan Seri



Pertambahan panjang pada rangkaian seri:

xs = x1 + x2

Konstanta total rangkaian seri:



2. Susunan pararel



Pertambahan panjang pada rangkaian pararel

xp =  x1 = x2

Konstanta total rangkaian seri

kp =  k1 = k2

<<Kemali ke materi dinamika gerak lurus

Sabtu, 09 Juli 2016

Pemaparan Hukum Gravitasi Newton dan Hukum Keppler


Perhatikan bunyi hukum gravitasi newton berikut:

"Gaya gravitasi antara 2 benda merupakan gaya tarik menarik yang besarnya berbanding lurus dengan masing-masing massa benda dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara keduanya"

Secara matematis, pernyataan diatas bisa dibentuk ke dalam persamaan:

Pemaparan Hukum Gravitasi Newton

keterangan:

F = besar gaya tarik menarik kedua benda (N)
G = Konstanta gravitasi (6,67 . 10-11 Nm2/Kg2)
m1 = massa benda ke 1 (Kg)
m2 = massa benda ke 2(Kg)
R = jarak ke dua benda (m)

Kuat Medan Gravitasi

Gaya gravitasi newton sangat erat kaitannya dengan kuat medan. Kuat medan ini maksudnya adalah gaya yang bekerja per satuan massa yang diletakan dalam medan gravitasi. 

Medan gravitasi sendiri apa? medan gravitasi adalah daerah disekitar benda yang memiliki massa, dimana benda lain disekitar daerah tersebut mengalami pengaruh gaya gravitasinya.

Rumus kuat medan gravitasi dituliskan:


Keterangan:
F = besar gaya gravitasi benda bermassa M (N)
g = kuat medan gravitasi (m/s)
m = massa benda yang terpengaruh gravitasi benda bermassa M (Kg)
M = massa benda yang menghasilkan gravitasi (Kg)
R = jarak benda bermassa m ke pusat benda bermassa M (m)

Hukum Keppler

Hal-hal berkenaan dengan peredaran planet-planet dalam mengelilingi matahari dapat dipelajari dengan memahami konsep-konsep hukum keppler. Hukum keppler terbagi menjadi 3 bagian, yaitu:

1. Hukum Keppler I

Hukum I Keppler mengatakan bahwa lintasan planet berbentuk elips dengan matahari sebagai salah satu titik fokusnya. Berdasarkan gagasan ini dengan jelas mengatakan bahwa planet-planet mengelilingi matahari dengan lintasan yang berbentuk elips bukan lingkaran. 

hukum keppler1

Dengan keadaan seperti ini ada lintasan yang paling dekat dengan matahari dan juga paling jauh dari matahari. Nah bagian lintasan yang paling dekat dikenal dengan istilah titik perihelium dan yang paling jauh dikenal dengan istilah titik aphelium.

2. Hukum Keppler II

Menurut hukum II Keppler, garis penghubung planet ke matahari menyapu luas daerah yang sama dalam rentang waktu yang sama.

Masih bingung? Perhatikan gambar berikut!

hukum keppler 2

Pada gambar tersebut terlihat ada dua buah luasan (kiri dan kanan). Kedua luasan tersebut memiliki luas yang sama. Sapuan yang menghasilkan luas yang sama tersebut masing-masing ditempuh dengan rentang waktu yang sama. Jadi misal planet A bergerak dari titik a ke b dalam rentang waktu Z sekon dan dari titik c ke d dalam rentang waktu z sekon pula maka luas yang hasil sapuannya akan sama.

3 Hukum Keppler III

Menurut hukum keppler III, pangkat dua periode planet mengelilingi matahari sebanding dengan pangkat tiga rata-rata jarak planet tersebut ke matahari. Secara matematis persamaan hukum Keppler III dapat ditulis:

hukum keppler3

Keterangan:

T = Perode planet mengelilingi matahari (s)
R = Jarak rata-rata planet ke matahari (m)
k = Konstanta/ tetapan yang nilainya sama untuk semua planet

Kamis, 07 Juli 2016

Analisis Gaya Gesek pada Bidang Datar dan Bidang Miring

Setelah kita mempelajari konsep-konsep dasar gaya gesek maka disini kita sudah siap untuk merambah ke level selanjutnya. Ya, disini kita akan belajar melakukan proses analisis/perhitungan terhadap gaya gesek pada bidang datar dan bidang miring.

Analisis gaya gesek pada bidang datar I
 
Perhatikan gambar berikut!

Analisis Gaya Gesek pada Bidang Datar

Terlihat ada sebuah balok dengan berat w didorong dengan arah horizontal sebesar F. Untuk menghitung berapa besar gaya geseknya (f) tentu yang pertama kali kita lakukan adalah mencari gaya normalnya terlebih dahulu. 

Sebagaimana yang dijelaskan pada ulasan pembahasan tentang gaya normal didapatkan:

∑F = 0
N - w = 0
N = w

Nah sekarang kita sudah mengetahui bahwa besar gaya normal pada sistem di atas adalah w. Sekarang saatnya memasukan nilai gaya normal tersebut ke rumus gaya gesek:

f = µ . N = µmg

Selesai! Sampai di sini nilai gaya gesek sudah diketahui. Namun jika kalian dituntut untuk mengetahui berapa besar percepatan sistem (pada arah horizontal) maka solusinya adalah dengan mengaplikasikan hukum Newton 2. 

Perhatikan gaya-gaya yang terdapat pada arah horizontal. Kita menemukan ada yang namanya gaya F dan juga gaya gesek f.

Analisis Gaya Gesek pada Bidang Datar

Sehingga,

∑F = ma
F - f = ma

* Nilai f negatif karena berlawanan dengan arah gerak

Sehingga berdasarkan persamaan diatas akhirnya diperoleh persamaan besar percepatan:

Analisis gaya gesek pada bidang datar II

Sistem di atas adalah analisis gaya gesek dengan keadaan dimana gaya luar tidak membentuk sudut θ alias 0. Terus bagaimana jika sistemnya seperti gambar berikut?

Analisis Gaya Gesek pada Bidang Datar
Sama seperti cara diatas, untuk menghitung berapa besar gaya gesek, pertama kita harus mencari tahu dulu nilai gaya normalnya. Dimana gaya normal bisa diketahui dengan memperhatikan gaya-gaya yang terdapat pada arah vertikal.

Analisis Gaya Gesek pada Bidang Datar

Disana kita mendapatkan w, N dan F sin θ. Ketiga jenis gaya tersebut adalah komponen gaya pada arah vertikal. Dengan mengaplikasikan hukum 1 Newton didapat:

N + F sin θ = w
N = w - F sin θ
N = mg - F sin θ

* F sin θ dan w bernilai negatif karena arahnya berlawanan dengan arah gaya normal.

Substitusikan persamaan tersebut ke rumus gaya gesek:

f = µN = µ(mg - F sin θ)

Sampai disini besar gaya gesek sudah diketahui. Selanjutnya jika kalian ingin mencari besar percepatan sistem pada arah horizontal bisa diketahui dengan memperguanakan hukum 2 Newton berikut.

∑F = ma
F cos θ - f = ma
F cos θ - µ(mg - F sin θ) = ma
F cos θ - µmg + µF sin θ = ma
F ( cos θ + µsin θ ) - µmg = ma

Sehingga hasil akhirnya adalah,

a = {F ( cos θ + µsin θ ) - µmg} : m

Analisis Gaya Gesek pada Bidang Miring

Perhatikan gambar berikut!

Analisis Gaya Gesek pada Bidang miring

Gambar diatas menginformasikan kepada kita bahwa ada sebuah benda dengan berat w tengah disimpan di permukaan bidang miring yang membetuk sudut θ. Untuk menentukan berapa besar gaya geseknya kita cari dulu besar gaya normalnya dengan persamaan:

∑F = 0
N - w sin θ = 0
N = w sin θ

Baru setelah itu masukan nilai N ke rumus gaya gesek:

f = µN
f = µ . w cos θ

Sedangkan untuk mencari percepatan sistem pada arah sumbu x (horizontal) bisa diketahui dengan mengaplikasikan hukum 2 Newton berikut:

∑F =ma
w sin θ  - f = ma
w sin θ - µ w cos θ = ma
mg sin θ - µ mg cos θ = ma

sehingga hasil akhirnya,

a = g (sin θ - µ cos θ)

<<Kembali ke materi dinamika gerak lurus

Penjelasan Lengkap tentang Gaya Gesek pada Konsep Fisika

Gaya gesek adalah gaya yang bekerja pada sebuah benda dan arahnya selalu melawan arah gerak benda. Perlu kita ketahui bersama, gaya gesek hanya terjadi jika ada gaya lain yang bekerja pada benda, semisal dorongan, tarikan atau lain sebagainya.

 

Meskipun gaya gesek ini jarang sekali dibahas dalam kehidupan sehari-hari. Namun ternyata, gaya gesek memiliki peran penting terhadap keberlangsungan hidup makhluk hidup, khusunya manusia.

Coba saja bayangkan jika kita hidup tanpa adanya gaya gesek, hidup mungkin akan menjadi sesuatu yang sulit. Mau berjalan terpeleset, mau ngerem motor ga bisa, mau megang sesuatu pun akan terus terjatuh. Terbayang sekali bukan jika gaya gesek tidak ada dalam kehidupan ini?

Namun demikian, meskipun gaya gesek memberikan sesuatu yang banyak bagi kita. Tetapi ada beberapa hal lain juga yang ternyata gaya gesek itu merugikan. Contohnya apa? Gaya gesek pada piston mesin. Gaya gesek yang terjadi pada piston akan menghasilkan panas dan tentu ini tidak baik terhadap mesin. Dan biasanya mesin akan rusak jika hal ini dibiarkan.

Macam-macam gaya gesek

Secara umum gaya gesek terbagi menjadi 2 macam yaitu:
  • Gaya gesekan statis (fs), yaitu gaya gesek yang bekerja pada benda yang sedang terdiam
  • Gaya gesekan kinetis (fk), yaitu gaya gesek yang bekerja pada benda yang sedang bergerak
* Khusus untuk gaya gesek statis, besar gaya terbesarnya adalah pada saat benda tepat akan bergerak. Sedangkan pada gaya gesek kinestis, besar nilai gayanya akan selalu konstan.

Kondisi Gesekan

Ada tiga kemungkinan yang terjadi pada sebuah benda jika benda tersebut mendapatkan gaya dari luar.
  1. Jika F < (fs)maks maka benda akan tetap diam
  2. Jika F = (fs)maks maka benda tepat akan bergerak
  3. Jika F > (fs)maks maka benda akan bergerak
Rumus/Persamaan umum gaya gesek

Seperti yang sudah disebutkan di atas, gaya gesek terbagi menjadi dua jenis, yaitu gaya gesek statis dan gaya gesek kinetis. Kedua jenis gaya gesek ini masing-masing memiliki persamaannya sendiri-sendiri. Berikut adalah rumus gaya geseknya.

fs = µs .N
fk= µk. N

dimana,
(fs)maks = gaya gesek statis maksimum (N)
fk = gaya gesek kinetis (N)
µs = koefesien gaya gesek statis
µk = koefesien gaya gesek kinetis

Adapun tabel beberapa nilai koefesien gesekan antara dua permukaan benda adalah sebagai berikut.


Permukaan Koefesien gesek statis Koefesien gesek kinetis
Kayu pada kayu 0,40 0,20
Kayu pada baja 0,70 0,40
Kayu pada salju 0,08 0,06
Baja pada baja 0,74 0,57
Alumunium pada baja 0,61 0,47
Tembaga pada baja 0,53 0,36
Kaca pada kaca 0,94 0,40
Tembaga pada kaca 0,68 0,53
Teflon pada teflon 0,04 0,04
Karet pada beton (Kering) 1,00 0,80
Karet pada beton (Berair) 0,30 0,25
Bola gotri yang diberi oli <0,01 <0,01
Teflon pada baja

0,04

0,04

Jika kalian hanya ingin mengetahui konsep dasar gaya gesek maka penjabaran halaman ini sudah cukup. Namun jika ingin memperdalam konsep materinya bisa klik link analisis gaya gesek pada bidang datar dan bidang miring.

Senin, 04 Juli 2016

Pemaparan Konsep Gaya Normal

Ketika ada sebuah benda dengan berat w diletakan pada suatu permukaan tertentu, maka sebagaimana bunyi hukum Newton 3, permukaan bidang datar akan memberikan reaksi yang berlawanan arah terhadap gaya berat yang diberikan oleh balok. Nah gaya yang berlawanan inilah yang disebut sebagai gaya normal.

Ciri khas utama dari gaya normal adalah arahnya yang selalu tegak lurus terhadap bidang permukaan. Coba kalian perhatikan gambar berikut.

 

Dari gambar di atas, terlihat bahwa arah gaya normal selalu tegak lurus terhadap permukaan. Baik itu pada bidang datar ataupun miring.

Persamaan/Rumus untuk Mencari Besar Gaya Normal

Untuk mengetahui arah gaya normal suatu benda, kita bisa mempergunakan kadiah hukum Newton 3 dalam menentukannya. Tapi dalam menentukan besar gaya normal akan sedikit berbeda, bukan hukum Newton 3 lagi yang dipergunakannya akan tetapi hukum newton 1 lah yang nantinya akan dipakai.

Silahkan lihat gambar berikut!

Untuk mencari besar gaya Normal pada gambar di atas, kita bisa menentukannya dengan cara berikut:

∑F = 0 -----> Hukum Newton 1
N - w = 0
N = w

* Nilai w bertanda negatif dikarenakan arahnya yang berlawanan dengan arah gaya normal

Jadi kita bisa menyimpulkan, besar gaya normal pada bidang datar (tidak miring) adalah sama dengan gaya berat itu sendiri.

Gaya normal pada saat adanya gangguan dari luar

Persamaan diatas adalah gaya normal pada bidang datar tanpa adanya gangguan /gaya dari luar. Lha terus bagaimana jika ada pengaruh gaya luar? Seperti dorongan atau tarikan terhadap permukaan benda?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perhatikan gambar berikut.


Berdasarkan gambar di atas, kita melihat ada sebuah benda berbentuk kubus yang mendapatkan dorongan sebesar F Newton (Gangguan luar) yang arahnya menuju ke pusat bumi. Jika hal ini terjadi, maka gaya normal bisa diketahui nilainya dengan:

∑F = 0 -----> Hukum Newton 1
N - F - w = 0
N = F + w

* * Nilai F dan w bertanda negatif dikarenakan arahnya yang berlawanan dengan arah gaya normal

Gaya Normal pada bidang miring

Sekarang tiba saatnya bagi kita untuk mempelajari konsep gaya normal pada bidang miring. Pada dasarnya, menentukan besar gaya normal pada bidang miring atau bidang datar itu sebenarnya sama saja. Cuman yang membedakan terletak pada keberadaan penggunaan konsep trigonometri didalamnya. 

Coba perhatikan gambar berikut!

 

Di atas kita melihat ada sebuah balok yang dengan berat w disimpan di suatu bidang miring. Antara bidang miring dan bidang datar terbentuk sudut sebesar θ. Untuk menentukan besar gaya normal pada sistem tersebut yang pertama kali kita lakukan adalah mengetahui gaya-gaya apa saja yang letaknya sejajar dengan gaya normal. 

Berdasarkan gambar tersebut, gaya yang letaknya sejajar dengan gaya normal adalah wy. wy disini maksudnya adalah gaya berat pada arah komponen sumbu y. Nah jika hal tersebut sudah dilakukan maka langkah selanjutnya adalah menerapkan konsep hukum 1 newton.

∑F = 0 -----> Hukum Newton 1
N - wy = 0
N - w cos θ = 0
N = w cos θ

Minggu, 03 Juli 2016

Penjelasan Gaya Berat dalam Konsep Fisika

Di dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengarkan kata "berat" yang digunakan untuk menyatakan suatu ukuran. Seperti berat 1 kg telur, berat 1 Ton beras dan lain sejenisnya. Harus kalian ketahui bahwa penggunaan kata "berat" pada hal-hal yang disebutkan di atas di dalam Fisika tidaklah dibenarkan.

Kilogram, Ton, miligram dan sejensinya merupakan satuan dari "massa" bukan "Berat". Berat termasuk ke dalam jenis gaya, sehingga satuannya pun jelas, yaitu Newton.

Dari sini kita bisa melihat bahwa perbedaan massa dan berat sangatlah mencolok sekali. Sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk menyamakan istilah berat dengan massa.

Pada penerapannya, berat sering disimbolkan dengan huruf w  yang menunjukan kata weight (Berat).  Berat ini sangat dipengaruhi dengan yang namanya gravitasi bumi, sehingga arahnya pun tentu menuju ke pusat bumi. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut:


Dari gambar di atas, terlihat bahwa bagaimanapun posisi dari suatu benda. Arah berat tetap menuju ke bawah. Bawah disini maksudnya adalah pusat bumi.

Untuk persamaan/rumus berat sendiri bisa dituliskan sebagai berikut:

w = mg

dimana,
w = Berat (N)
m = Massa (Kg)
g = Gravitasi Bumi (9,8 m/s2)

Menghitung besar percepatan pada bidang miring

Perhatikan gambar berikut,

 

Perlu kita ketahui bersama, pada saat benda berada di bidang miring maka ada kesempatan benda untuk bergerak. Hal ini menyebabkan nilai dari percepatannya ada. Nah jika ini terjadi maka hukum Newton 2 berlaku didalamnya.

∑F = ma
wx = ma
w sin θ = ma
mg sin θ = ma
a = g sin θ

dimana,
wx = berat pada komponen sumbu x (N)
a   = pecepatan benda (m/s2)

Sabtu, 02 Juli 2016

Bunyi Hukum Newton 3 Lengkap dengan Rumus dan Contohnya dalam Kehidupan

Simak bunyi hukum Newton 3 berikut;

"Jika sebuah benda (benda 1) mengerjakan gaya pada benda lain (benda 2) maka benda kedua akan mengerjakan gaya pada benda pertama sama besar dan berlawanan arah dengan gaya pada benda pertama"

Bunyi Hukum Newton 3 Lengkap dengan Rumus dan Contohnya dalam Kehidupan 

Jadi intinya, jika ada sebuah benda melakukan gaya kepada benda lain maka benda lain tersebut akan memberikan gaya yang sama besar dengan gaya yang diberikan oleh benda pertama. Namun arahnya berlawanan.

Contoh Hukum Newton 3 dalam kehidupan

Misalkan ada seseorang yang tengah mendorong tembok dengan tangannya (Aksi). Ia mendorong tembok sebesar F Newton. Perlu kalian ketahui, sebenarnya pada saat tangannya memberikan gaya dorongan terhadap si tembok, maka secara bersamaan tembok pun memberikan gaya sama besar terhadap tangan si pendorong (Reaksi). Namun dalam hal ini arahnya berlawanan. Jika orang tersebut memberikan gaya F maka tembok memberikan gaya sebesar -F.

Rumus Hukum Newton 3 bisa ditulisak sebagai berikut:

Faksi = -Freaksi

<<Kembali ke materi dinamika gerak lurus

Bunyi Hukum Newton 2 lengkap dengan Rumus dan Contohnya dalam Kehidupan

Silahkan simak bunyi hukum newton 2 berikut,

"Percepatan yang ditimbulkan oleh gaya yang bekerja pada suatu benda, besarnya berbanding lurus dan searah dengan gaya itu, dan berbanding terbalik dengan massa benda"

Bunyi Hukum Newton 2 lengkap dengan Rumus dan Contohnya dalam Kehidupan 

Dari bunyi hukum 2 Newton ini, kita bisa ambil 2 kesimpulan, yaitu:
  • Besar percepatan berbanding lurus dengan gaya yang diberikan
  • Besar percepatan berbanding terbalik dengan massa benda
Masih bingung? Simak contohnya berikut;

.:: Kasus 1
Misalkan saya memiliki 2 buah kelereng dengan masa yang sama. Yang satu saya berikan sedikit gaya dorong dan yang satunya saya naikan. Nah menurut kalian manakah yang akan menghasilkan percepatan paling besar? Sudah barang tentu yang mendapatkan gaya dorong terbesar. Semakin besar gaya yang diberikan maka percepatannya pun akan semakin membesar. 

Hal ini sesuai bukan dengan hukum newton 2 yang mengatakan bahwa percepatan berbanding lurus dengan gaya yang diberikan?

.:: Kasus 2

Disini saya ambil contoh kelereng lagi. Misalkan ada dua buah kelereng, yang satu berat dan yang satunya lagi ringan. Nah kedua kelereng ini saya dorong dengan gaya yang sama. Menurut kalian manakan yang nantinya akan menghasilkan percepatan paling besar? Tentu yang beratnya paling ringan. Semakin berat suatu benda maka akan semakin kecil percepaannya.

Saya tanya lagi, ini sesuai tidak dengan hukum Newton 2 yang mengatakan bahwa besar percepatan suatu benda berbanding terbalik dengan massanya?

Rumus Hukum 2 Newton

∑F = m.a

dimana ,
∑F  = Resultan Gaya (N)
m = Massa (Kg)
a   = Percepatan (m/s2)

Bunyi Hukum Newton 1 lengkap dengan Contohnya

Silahkan simak bunyi hukum Newton I berikut ini,

"Setiap benda bersifat lembam, artinya benda itu akan cenderung mempertahankan keadaannya seperti semula. Jika resultan gaya-gaya yang bekerja pada benda tersebut sama dengan nol maka benda akan tetap diam atau bergerak lurus beraturan"

Berdasarkan hukum tersebut, kita mendapatkan kesimpulan bahwa jika gaya yang diberikan terhadap sebuah benda sama dengan nol maka benda yang tadinya diam akan tetap dalam keadaan diam, sedangkan yang tadinya bergerak akan cenderung untuk selalu tetap bergerak dengan kecepatan konstan.

Contoh penerapan hukum newton dalam kehidupan sehari-hari

Apakah kalian pernah mengalami kejadian dimana kendaraan yang kalian gunakan mengerem secara mendadak? Saat kondisi ini menimpa, sudah dipastikan badan kalian akan terdorong ke depan. Sebaliknya, ketika kalian sedang tediam di dalam suatu kendaraan, kemudian kendaraan tiba-tiba melaju secara mendadak pasti tubuh kalian akan terdorong kebelakang. 

Bunyi Hukum Newton 1 lengkap dengan Contohnya

Nah yang menjadi pertanyaannya kenapa ini bisa terjadi? Hukum newton I berbicara.

Pada saat kita berada di kendaraan, sebenarnya tubuh kita juga bergerak relatif terhadap jalan yang berada di bawah kendaraan tersebut. Ketika kendaraan tiba-tiba mengerem mendadak, maka tubuh terdorong kedepan, ini disebabkan karena tubuh kita sebenarnya ingin mempertahankan keadaan bergeraknya untuk tetap bergerak, yang pada akhirnya saat kendaraan tiba-tiba berhenti maka tubuh pun terpental ke depan.

Contoh ke dua, saat kendaraan tiba-tiba melaju mendadak. Tubuh akan terdorong kebelakang dikarenakan tubuh pada dasarnya ingin mempertahankan posisinya diamnya, yang mana akhirnya tubuhnya pun jadi terpental ke belakang.

Nah seluruh peristiwa ini persis seperti apa yang diutarakan oleh hukum newton I diatas.

Rumus Hukum Newton I

Secara matematis, hukum newton satu bisa dituliskan:

∑F = 0

dimana F adalah Gaya (N),